Posts Tagged TDA
Omset 0 Rupiah
12 Januari 2009 menjadi tanggal penting dalam perjalanan bisnis saya.
Bukan karena hari itu kami mendapat angka penjualan yang fantastis.
Justru sebaliknya. Hari itu tak ada transaksi jual-beli di outlet
kami. Ya, hari itu omset outlet kami 0 rupiah. Kabar itu sampai
kepada kami setelah karyawan kami, Sri, memberitahu melalui SMS,
sesuatu yang mengagetkan saya dan istri.
“Ini betul-betul ujian bagi kita untuk sabar, syukur, dan ikhlas,”
ujar saya menenangkan istri, meski hati kecil saya sendiri juga perlu
ditenangkan, hehehe…. Saya betul-betul tidak siap dan sampai beberapa
hari mood saya jatuh hampir ke titik nol.
Sejak buka 15 Desember lalu, omset harian outlet kami meleset dari
perkiraan, masih jauh dari target minimal yang saya tetapkan. Sesuai
rumus bisnis dari Pak Ryad Kusuma, saya targetkan bisa balik modal
dalam waktu satu tahun. Saya berusaha menerapkan berbagai teori untuk
menarik pengunjung dari para motivator dan penasehat bisnis saya,
mulai dari gencar berpromo, penataan outlet yang menarik, hingga
senantiasa berperasaan positif.
Saya optimis dengan target itu setelah melihat traffic (lalu lintas)
orang dan kendaraan di jalanan depan outlet kami terbilang sangat
tinggi. Rupanya saya masih harus menyimpan target itu. Nyatanya,
traffic tak selalu berbanding lurus dengan penjualan. Saya masih
harus berpikir keras, menerapkan strategi dan taktik penjualan dan
marketing yang lebih canggih. Di samping itu, yang jauh lebih berat
adalah menjaga stamina dan semangat. Penjualan yang rendah seringkali
menjatuhkan mental kita.
“Hey! Jangan biarkan semangat dan optimisme menyusut! Ayo bangun,
Bung!” bisik hati saya. Semangat dan optimisme adalah dua hal yang
melekat dalam cerita-cerita sukses. Penjualan yang minim justru harus
memompa semangat saya untuk terus berinovasi dalam promo dan
pemasaran. Inilah tantangan. Situasi sulit justru harus memaksa kita
untuk terus berpikir dan bekerja keras.
Sabtu, 17 Januari 2009, saya kembali ke Jogja karena ada kuliah dari
Prof Olle dari Norwegia pada hari Senin. Dua hari di kamar kos saya
merenungkan semuanya, mengendapkan seluruh kegelisahan saya,
membekukan keraguan saya.
Ada titik terang. Ternyata kuncinya ikhlas. Ya, ikhlas, sebuah bentuk
penyerahan diri kepada Sang Penguasa Alam. Saya harus serahkan hasil
dari usaha kita kepada Gusti Allah. “Tugas kita bukan untuk berhasil,
tetapi untuk mencoba,” saya masih ingat kata-kata Mario Teguh itu.
Kita wajib bekerja, berdoa, dan memelihara pengharapan yang positif
agar bisa menarik energi-energi positif di alam semesta yang
mendukung seluruh capaian yang ingin kita gapai. Titik akhirnya
adalah ikhlas, membiarkan tangan-tangan ghaib yang Maha Kuat bekerja
meluluskan keinginan kita.
Saat ini saya tak lagi ragu, tidak pula gelisah ketika mendengar
outlet kami belum juga mencapai target minimal yang ditetapkan. Saya
serahkan semua hasil kepada Sang Penguasa Alam. Yang penting saya
telah dan akan terus bekerja memperbaiki kinerja, berperasaan dan
berpengharapan positif, lebih banyak lagi sedekah, perbanyak doa,
lebih disiplin dalam ritual dhuha dan tahajud. Setelah itu perkuat
keyakinan bahwa keberhasilan hanya soal waktu saja. Saya yakin Tuhan
sudah menghitung setiap butir keringat kami dan itu semua pasti akan
dibalas bahkan melebihi jumlah keringat itu. Sekali lagi, ini hanya
soal waktu saja. “Akan ada akumulasi keringat,” ujar Wanto, adik ipar
saya, suatu ketika.
Urusan dengan diri saya selesai. Bagaimana dengan istri? Dia masih
diliputi keraguan. Hampir setiap hari saya menelpon atau SMS untuk
menguatkan kembali semangatnya, memulihkan kepercayaan dirinya.
Apalagi bulan depan saya sudah tidak di sampingnya selama lebih dari
empat bulan karena saya harus kuliah di Oslo, Norwegia.
Saya bilang, “Ikhlaskan saja. Mau dapat berapapun hari ini, itu bukan
urusan kita. Serahkan semuanya sama Gusti Allah. Yang penting kita
jangan sampai berhenti bergerak. Besok kita harus bekerja lebih
keras, lebih gencar lagi berpromo, lebih banyak lagi kita memberikan
keuntungan untuk pelanggan. Trius, kita juga harus perbanyak lagi
sedekah, perkuat lagi doa dan wiridnya, dhuha dan tahajudnya.”
“Ikhlas itu susah, Yah. Hati kecilku masih ragu karena ada kewajiban
belanja tiap bulan dari Rabbani. Bisa gak kita penuhi itu, sementara
omsetnya segitu-gitu aja?” tanya istri saya di ujung telepon.
“Kamu harus yakin bisa. Keraguan itulah yang menghalangi keberhasilan
kita. Apa yang kita capai adalah apa yang kita rasakan dan pikirkan.
Buang keraguan itu dengan optimisme. Tanamkan optimisme dengan syukur
atas rahmat dan berkah yang sudah kita terima,” ujar saya.
Saya mengatakan bahwa tak ada satupun alasan yang membenarkan kita
pesimis dan ragu. Karena kalau kita begitu, itu artinya kita tidak
mensyukuri apa yang sudah kita terima, tak menikmati apa yang sudah
kita capai. “Lihatlah apa yang sudah kita capai sekarang. Dari segi
apapun kita tetap jauh lebih beruntung daripada orang-orang di
sekitar kita. Kita harus bersyukur. Syukur dan ikhlas memancarkan dan
menarik energi positif ke dan dari alam semesta. Energi positif di
dalam diri kita itulah yang akan melakukan percepatan pemenuhan atas
apapun yang kita inginkan,” tegas saya.
Begitulah, saya berulangkali menegakkan kembali keyakinan istri saya.
Tak ada cara lain. Bisnis itu kami jalankan berdua. Karena itu, kami
harus satu frekuensi. “Kalau hanya aku yang yang yakin dan optimis
sementara kamu tidak, proyek kita akan sulit, akan pincang. Kita
harus jalan sama-sama, yakin dan optimis sama-sama. Kita harus
berprasangka positif kepada Gusti Allah. Betapapun buruknya situasi
yang menimpa kita, itulah cara Gusti Allah memuliakan kita,” kata
saya sembari tetap merapatkan Nokia 1110i di telinga.
Saya sebetulnya tak sabar ingin pulang ke Ciamis. Saya ingin berada
di samping istri saya untuk menguatkan hatinya. Tapi tugas akhir
kuliah menumpuk. Saya harus bikin tiga paper panjang karena
perkuliahan semester pertama sudah selesai. Tugas-tugas itu harus
saya selesaikan sebelum saya berangkat ke Oslo, Norwegia, 22 Februari
mendatang.
Asep Mulyana
http://asep1974.blogspot.com
*diposting seijin kang Asep Mulyana ^_^
2 comments 30 January 2009
Halal Bihalal TDA 2008, di Bandung
TDA mengadakan acara luar biasa. Halal Bihalal 2008 tgl 8 November 2008, biasanya dilaksanakan di jakarta, tapi kali ini diselenggarakan di Bandung. Alhamdullilah, saya bisa ikutan sebagai peserta. Lokasi di kompleks Darut Tauhid di Gerlong. Tgl 4 saya mulai contact ke temen, Idham dan Rizal, juga Mas Sulkan yg ketemu di acara forum TDA sesi Ina Cookies.
Saya datang sebagai peserta yg kalo dilevel pastinya masih bawah sekali. Masih TDB, bisnis yg pasti dan berjalan pun tidak ada. Tapi saya yakin, kalo sering sering berkumpul dengan pengusaha-pengusaha tentunya akan terbawa arus menjadi pengusaha pula. InsyaAllah. Tujuan utama saya datang adalah ingin melihat langsung pak Haji Alay, yg saya baca ceritanya di blog pak Hadi Raja Selimut. Saya penasaran seperti apa orangnya. Syukur syukur mendapat doorprize domba Garut. Hahaha.. Sayangnya pak Haji Alay berhalangan hadir, juga pak Hadi. Tapi tanpa mendapat doorprize pun (ini murni menghibur diri sendiri ^_^), ilmu dan pencerahan yg didapat lebih dari harga yg telah ‘dibayarkan’.
Materi pak Masrukhul Amri (http://www.amri.web.id) tentang Unlocking Potential Power in Bussiness, sungguh kebalikan dari ilmu yg selama ini pernah saya dapat. Tapi kalau di cerna lagi, sebenernya semua itu sebangun. Diajarkan, kita harus IRI! Tapi pilihlah orang yg pantas kita iri, yaitu orang kaya yg mengamalkan hartanya dan orang berilmu yg mengamalkan ilmunya. Ada 1 point penting lagi yg saya dapatkan.
Aku (ALLAH) sesuai dengan prasangkah hambaKu kepadaKu.
Kadang saya merasa tidak pantas memohon ampun dan pertolongan kepada Allah karena dosa saya yg berjibun, tapi itulah, kalau saya berprasangka Allah tidak akan mengampuni dan menolong hambaNya, maka itu lah yg terjadi. Saya pikir ini mirip mirip dengan Law of Attraction, apa yang kita bayangkan, itulah yang akan terjadi. Dan perlu adanya Proklamasi Diri.
Materi Pak Jamil Azzaini (http://jamil.niriah.com) tidak kalah menariknya. Beliau penasehat komunitas TDA. Walaupun sebenernya beliau hanya ditodong untuk memberi sambutan sambil mengisi waktu menunggu katering yg terlambat, tapi menurut saya sungguh menjadi salah satu acara penting di HBH kemarin. Hikmah dari keterlambatan katering kemarin adalah, pak Jamil bisa memberikan pemikirannya yang luar biasa. Banyak tertawanya, tapi kadang saya harus berusaha keras menahan air mata menetes, malu sama yg lain. hahaha.. Membuat saya malu dengan kondisi saya yg terhitung nyaman waktu kecil, tapi belum punya prestasi hebat yg dapat saya banggakan di muka bumi saat ditanya oleh Allah saatnya nanti. Jika pak Amri dengan proklamasi, maka pak Jamil, menganjurkan untuk membuat Proposal Hidup yg akan saya jalani.
Bertemu dengan pak Rony Yuzirman (http://roniyuzirman.blogspot.com), sungguh pribadi yg sederhana dan hangat. Saya kagum dengan senyuman tulusnya, saat saya sapa, walaupun tidak kenal. Membuat saya merasa dihargai. Padahal beliau sudah punya “nama besar”. Point yg insyaAllah akan saya ingat jika sudah menjadi pengusaha sukses agar selalu menghargai dan menghormati orang lain, siapapun itu.
Bertemu dengan pengusaha pengusaha sukses lainnya, Mas Pendi dari http://www.studiokaos.com. Mas Agung Supriyadi (http://www.soloraya.biz), Mas Edi (http://www.grosirtanahabang.com) dan Mas Yayan. Mudah-mudahan saya bisa meniru jejak langkah beliau semua, dan bersinergi saling menguntungkan dengan mereka, dan dengan pengusaha-pengusaha lainnya. Amin.
Bertemu juga dengan teman lama saya Henri, beliau adalah ketua Himakom dan kebetulan saya dulu ada di kepengurusannya seksi Dana Usaha. Ternyata pengalamannya sungguh luar biasa, jauh dari yg saya bayangkan. Dan semangatnya saat sedang di bawah, sungguh menginspirasi.
Saya pulang, dengan membawa doorprize susu kedelai produk dari semarang, tapi lebih dari itu, saya mendapat pelajaran yg sungguh sungguh berharga. Semoga saya menjadi pribadi yg bersyukur, bukan hanya berterima kasih, kepada Allah Swt. Dan menjadi pengusaha yg Sukses dan Mulia, seperti kata pak Jamil Azzaini.
Dody
1 comment 10 November 2008
